THE TRAINNING OF TRAFFIC  ENGINEERING AND CONTROLLING LEVEL 1 PUSDIKLANTAS SERPONG.

Oleh: Syarkowi, Ir. M.Sc, Kepala Bidang Perencanaan

Hari jumat tanggal 8 Juli 2011, diadakan Presentasi oleh Peserta The Trainning of Traffic Engineering and Controlling level 1 di Pusat Pendidikan Lalu Lintas ( Pusdiklantas ), jalan Bhayangkara  Raya, Serpong Tanggerang. Pelatihan ini adalah Kerjasama  Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Repubik Indonesia dengan POLITIE Belanda yang diadakan dari tanggal 20 Juni 2011 – 8 Juli 2011, yang diikuti oleh perwakilan Ditlantas  Polda seluruh Indonesia. Tenaga Instruktur dari Politie Belanda antara lain Ron Rerkhout, Chief Inspector Politie Belanda dan Frits Lindeman.

 

Dalam sambutan pembukaan oleh Kausdiklat disampaikan bawa Pelatihan ini baru tahap Tingkat 1 dan akan dilakukan berjenjang sampai Level 4. Juga disampaikan, berdasarkan data Kepolisian tahun 2010,terdapat 31.500 orang meninggal dunia akibat kecelakaan yang terdata tahun 2010, berarti terjadi 3-4 orang meninggal dalam 1 jam di Indonesia, betapa Keselamatan jalan/Road safety merupakan hal yang sangat serius saat ini. Hal ini salah satu penyebabnya yaitu pertambahan jumlah kendaraan tidak seimbang dengan pertambahan panjang jalan dengan lalu lintas yang bercampur/mixed traffic.

Penulis diundang oleh Pusdiklantas, mewakili Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional/Bina Marga yang salah satu Peserta Fact Finding Mission (FFM) Angkatan 1 di VicRoad Melbourne, Australia yang mempelajari tentang Road Safety/Keselamatan Jalan dan juga diundang Peserta FFM Angkatan 2. Yang hadir antara lain dari FFM yaitu DR. Try Tjahyono dari Universitas Indonesia,; Ir. Yani Agustin, M,Sc, dari Indonesia Infrastructure Initiative ( IndII), ;Raja, ST  dan Widayani,ST,MT dari Bada Pengelola Jalan Tol (BPJT); Arief, ST,MT, dari Subdit teknik Lingkungan dan Keselamatan Jalan, Direktorat Bina Teknik; Wida , ST,MT, dari PMU Bina Program, Ditjen Bina Marga dan Ir.Kusmanto Hadi dari Kementerian Perhubungan juga Peserta FFM dari Ditlantas.

Selanjutnya dilakukan Tanya jawab dan tanggapan dari beberapa peserta antara lain yaitu:

Dari AKBP. Jonny Hendra ,Pusdiklantas Lemdikpol Polri.

Untuk level 1/ basic,Tentang mobilitas dan moda transportasi,route dan human behavior, utk level 2 agar dipersiapkan mengenai permasalahan yang ada di Indonesia karena perbedaan kultur Negara Indonesia berbeda dgn Belanda,, di Indonesia kondisi jalan tidak pernah bertambah sedangkan di Belanda jalan bisa bertambah.. sehingga kita bisa membahas permasalahan yang ada di Indonesia bukan yang ada di Belanda ?

Tanggapan dari AKP Yudhi yaitu Berkenaan dengan implementasi di Indonesia. Bahwa Mr. Frizt dan Ron sudah mengambil contoh kasus di Indonesia yaitu di Serpong dan di Puncak. Berbagai pendekatan sudah diterapkan dengan contoh kasus di kedua lokasi tersebut. Di level berikutnya kami akan mengambil contoh yang lebih banyak lagi tentang masalah –masalah di Indonesia.

Berkenaan pertanyaan dari Ir. Syarkowi, M.Sc ,Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional III (Prov. Sumatera selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu dan Provinsi Lampung);Dalam rangka law enforcement yang ada di Indonesia, mengenai kondisi riel di lapangan dan law enforcement yang cocok di Indonesia. Apakah sudah ada kajian mengenai faktor ekonomi atas perilaku masyarakat ?

Tanggapan AKP Matius, SIK:Sebelum adanya law enforcement, kita mendapat pendidikan minimal dari keluarga atau sekolah.. Faktor ekonomi tidak bisa dijadikan sebagai faktor utama pelanggaran yang terjadi, tapi dari pendidikan yang menjadikan faktor human behavior yang bisa diterapkan di Indonesia.AKP Rizal menyatakan, saat ini kami tidak dapat menentukan apa konsep yg cocok. Ada 3 hal yang akan kami sikapi yaitu tidak tahu, tidak mau dan tidak bisa dalam pelaksanaan dan law enforcement di Indonesia karena masing-masing wilayah berbeda-beda.

Berkenaan saran Wida,N, ST,.MT untuk  mensinergikan setiap pemangku kepentingan akan sampaikan saran tersebut kepada instruktur kami dan pihak Pusdik lantas dari tanggapan AKP Matrius, SIK, sedangkan menurut Mr. Frizt sudah membicarakan dengan pak Marcelino bahwa pada level 2 akan di ikutkan dari kementiraan pekerjaan umum.

Pertanyaan Ir. Kuntanto Hadi dari Direktorat Keselamatan Transportasi, Kementerian Perhubungan Darat tentang Perbedaan cakupan mulai dari level I, II, III, IV.,hal ini akan dibicarakan kembali dengan Pusdiklantas Lemdikpol Polri (Mr. Fritz)

DR.Try Cahyono dari Universitas Indonesia menanyakan tentang Level1 implementasidan kemampuan sudah sampai mana? Serta minta tanggapan dari peserta pelatihan apakah dengan “U Turn” dapat menyelesaikan masalah / menambah masalah ?. Menurut Ipda Yanuar Rizal,Implementasi yang didapatkan pada pelatihan ini yaitu bagaimana pola pikir untuk persoalan lalu lintas, cara mengatasinya dengan Problem Approach antara lain dgn PODOE (Problem, Cause, Objective, Solution and Evaluation).Untuk ‘U Turn’ dilapangan harus melihat tipe jalan. contoh reil di depan Mall di buat ‘U Turn’ untuk dibuat Analisis Dampak Lalu Lintas nya terlebih dahulu.Menurut Mr. Fritz, Motto didalam kelas adalah dengan membuat pilihan, bukan Jalan yang terbaik untuk identifikasi suatu masalah.

Kombes Pol Istiono,Korlantas Polri; menyarankan seharusnya dari pelatihan ini seluruh wilayah agar mengirimkan personel pelatihan agar ke depan ada Perwira polisi yang mengerti permasalahan rekayasa. Agar masing-masing wilayah dapat sharing mengenai permasalahan yang terjadi di wilayah masing-masing.Diharapkan para peserta pelatihan Traffic engineering and Controlling akan dapat mengimplementasikan apa yang diharapkan sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing