LOKASI POTENSI RAWAN KECELAKAAN DAN DATA KECELAKAAN DI JALAN  NASIONAL JALAN dan PROVINSI SUMATERA SELATAN.

Oleh: Syarkowi, Ir. M.Sc, Kepala Bidang Perencanaan.

Dalam rangka implementasi salah satu Tupoksi Bidang Perencanaan BBPJN III yaitu Aspek Keselamatan jalan dan  Aspek Lingkungan bidang Jalan, maka pada hari minggu,tanggal 26 Juni  2011, dilakukan Inspeksi lokasi lokasi rawan kecelakaan dan  potensi rawan kecelakaan, data data kasus kecelakaan serta jumlah korban kecelakaan di ruas-ruas jalan Nasional  di Lintas Timur arah Lampung (Palembang- Inderalaya-Tanjung Raja/Kayu Agung) dan Jalan  Provinsi ruas Tanjung Raja – Muara Kuang – Baturaja, penghubung Lintas Timur (Jalintim) dan Lintas Tengah (Jalinteng).

Di Ruas  jalan Nasional Lintas Timur,ruas Palembang- Simpang Inderlaya, lokasi rawan kecelakaan di km 16-17, tikungan yang cukup tajam, juga di KM 22-23. Di ruas Simpang Inderalaya- Simpang Meranjat terdapat di Km 32-33, tikungan yang tajam di dekat tugu Universitas Sriwijaya. Informasi Polres Kabupaten Ogan Ilir (OI),di papan Informasi di Simpang Muara Kuang, Tanjung Raja di tahun 2010, data sampai Januari 2010 terjadi 212 kasus Laka Lantas, walau korban fatalitas/meninggal dunia hanya 3 orang, Luka berat 9 orang dan luka ringan 26 orang. Hal ini cukup menggambarkan perlunya perhatian khusus tentang Keselamatan Jalan. Polres Kabupaten Ogan Ilir (OI) menempatkan Pos Penanganan Laka Lantas di Simpang Inderalaya ( Km 32) dari Palembang.

Ruas Jalan Lintas Timur, masih ada lebar jalan yang kurang dari Standar Minimal Jalan Nasional, Bahu+ Perkerasan+ Bahu ( 2 m + 7 m + 2 m ), saat ini dalam masa konstruksi pelebaran jalan.

Di dalam kontrak/ Spesifikasi edisi Novembar 2010 telah tercantum item pembayaran tersendiri manajemen pengaturan lalu lintas,. Zona kerja adalah lokasi yang ber potensi kecelakaan, apalagi di malam hari. Dilapangan cukup baik rambu-rambu lalu lintas sementara di zona kerja, namun perlu di jaga kondisi dan keberadaannya.

Hal lain yang perlu di perhatian, akibat pelebaran jalan menimbulkan hazard baru dan perlu dihilangkan seperti tanda nama kampung-kampung disepanjang ruas Simpang Inderalaya- Simpang Meranjat- Kayu Agung.,Papan nama desa harus di pindah diluar badan jalan.

 

Jalan Lintas Timur yang merupakan salah satu koridor ekonomi Pulau Sumatera, sangat padat lalu lintas dengan bermacam jenis kendaraan, baik lokal maupun antar Provinsi (Regional), diperlukan pengaturan yang intensif dan kesadaran serta disiplin para Pengguna Jalan serta Izin  Pemanfaatan dan Penggunaan bagian-bagian jalan.

Ketertiban atau kepatuhan atas peraturan yang berlaku seperti batasan Muatan/beban kendaraan, Muatan Sumbu Terberat ( MST) sangat diperlukan. Kelas jalan Lintas Timur secara umum masih dalam kelas JALAN SEDANG berdasarkan Undang-Undang No:38/2004 dan Peraturan Pemerintah No:34/2006 tentang Jalan, saat ini telah diprogramkan peningkatan kapasitas.

Jalan Lintas Timur rawan macet, dengan kendaraan yang agak kurang terkendali Muatan Sumbu Terberat (MST), memperhatikan hal tersebut, Jalan TOL sudah sangat perlu intensif di programkan. Study Master Plan Arterial Road Sumatra (MARS)- KOICA, Korea maupun JICA- Jepang, telah membuat Rekomendasi tentang Jaringan jalan TOL tersebut. Untuk jaringan jalan di Sumatera Bagian Selatan ( SumBagSel), lebih dikenal dengan BELAJASUMBA, Integrasi Program para Gubernur Bengkulu, Lampung, Jambi, Sumatera Selatan dan Bangka-Belitung, pernah di presentasikan Penulis dalam rangka shortcourse dalam rangka Program MARS di Korea tahun 2009. Percepatan pembangunan jalan Jakabaring-Jejawi-Kayu Agung (37,5 km), salah satu upaya mengurangi kepadatan dan waktu tempuh  di Lintas Timur Palembang-Inderalaya-Kayu Agung.

JALAN PROVINSI, RUAS TANJUNG RAJA- MUARA KUANG – BATURAJA.

Merupakan penghubung lintas Jalintim dan Jalinteng,merupakan alternative pengalihan arus lalu lintas bila ada event Nasional seperti JAMBORE NASIONAL Juli 2011,di Teluk Gelam,Kayu Agung (OKI); Arus LEBARAN 2011 ataupun Regional/international seperti SEA GAMES November 2011.

Jalan Provinsi ruas Tanjung Raja – Muara Kuang – Baturaja, ruas ini merupakan salah satu ruas yang utama disamping ruas Simpang Penyandingan- Martapura di zaman Jajahan Belanda dan Jepang sampai awal Orde baru. Disamping itu potensi ekonomi cukup besar seperti adanya perkebunan tebu dan Pabrik gula CINTA MANIS,; perkebunan karet serta kelapa sawit.

Potensi rawan kecelakaan di Jembatan Tambang Rambang, Kecamatan Lubuk Keliat, dari kondisi yang sangat memperhatinkan, diperlukan penggantian dan saat ini sangat perlu pemeliharaan berkala. Potensi lain di lokasi Longsor di desa Bantian dan Desa Sukacinta, Kecamatan Muara Kuang, yang tergerus Sungai Ogan. Diperlukan rambu, barrier serta proteksi sungai ataupun relokasi badan jalan.


Dalam rangka meningkatkan ekonomi wilayah, diperlukan Jembatan didesa  Kecamatan Muara Kuang sebagai Penghubung antara Lintas Tanjung Raja (JaLintim) – Muara Kuang – Baturaja (JaLinteng) dengan Ruas Simpang Penyandingan (Jalintim) – Gunung Batu – Martapura (Jalinteng) yang merupakan dua jalur yang sangat penting dari sebelum Kemerdekaan sampai awal orde baru. Pondasi dan dua Pilar tengah, dari papan Proyek mulai dibangun mulai 2007, yang saat ini sepertinya terbengkalai. Bila dua jalan alternative penghubung Lintas Timur dan Lintas tengah terhubung dengan kondisi mantap, maka akan meningkatkan ekonomi antar Kabupaten khususnya, Provinsi Sumatera Selatan, Regional maupun ekonomi  Nasional.