ANGKUTAN BATU BARA MENJADI MOMOK MASYARAKAT

Oleh; Syarkowi, Ir. M.Sc, Kepala Bidang Perencanaan

Dua tulisan di Website BBPJN III sebelunnya berjudul ‘Batubara membawa Berkah sekaligus Bencana’ dan ‘Jalan Nasional Meradang’  ,berupa keprihatinan Penulis tentang akan terjadinya kerusakan infrastruktur jalan & jembatan dan Lingkungan.

Di wilayah Balai III yang dilewati angkutan batu bara yaitu di Provinsi Sumatera selatan yaitu Ruas Lahat- Muara Enim- Prabumulih- Palembang- Jln ke Tanjung Api-Api; Keluang (Kabupaten Musi Banyuasin) ke Sungai Lilin juga Muara Enim- Baturaja- Martapura, terus ke  Provinsi lampung melewati Jalan Lintas Tengah Sumatera sampai ke Srengsem/Panjang.dan di Provinsi Bengkulu dari Selatan, dari utara dan Tengah ( Curup/Kaphiyang) menuju Pelabuhan Pulau Baai.

Arus mudik, Suplai sembako dan BBM bakal terganggu, Lampung post tanggal 14 April 2011. Jalinteng putus total, Sumatera Express hari yang sama, hal ini karena Jembatan Way Besai 2, jembatan CH, Desa Banjarmasin, Kecamatan Baradatu, Kabupaten way kana Lampung rusak parah ditabrak truk fuso bermuatan batubara sehingga tak bias dilalui roda empat terhitung pukul 23.00 ,selasa 12 April 2011.

Dampak pengalihan lalu lintas ke Jalintim, maka menjadi rawan macet, seluruh kendaraan besar dan berat lewat jalur Jalintim. Kondisi jembatan Way Mesuji rusak,lantai jembatan jebol mengakibatkan hampir setiap hari terjadi kemacetan lalulintas atau terjadi anteren panjang hingga puluhan kilometer ( Sumex, 6 Mei 2011).

Kecelakaan maut jalan Tanjung Api-Api, km 9, Desa Gasing, korban tewas dua Polisi dan 2 warga Sipil ,penumpang Avanza BG 1231 NI, bertabrakan dengan truck batubara sekitar jam 5.00 pagi , selasa, tanggal 3 Mei 2011,karena ban Dumptruk yang pecah,yang berisi 15 ton batubara, sungguh menggenaskan, seperti di Headline Koran Sumatera Express tanggal 4 Mei 2011.

Insiden Truk fuso batubara seruduk pagar dan warung warga, akibat pecah ban dan dan dihantam dari belakang oleh Dumptruk bermuatan batubara juga di ruas jalan muara Enim-Prabumulih, Desa Muara gula baru, Kecamatan Ujan Mas Muara Enim.

Berita lain di Sumatera Express, 4 Mei 2011,dengan judul ’12 jembatan terancam ambruk’, Kondisi jembatan ruas Prabumulih- Muara enim

makin menghawatirkan, ujar Plh Kabid Angkutan Dishub Muara Enim, Bapak Aladdin., sedikitnya ada 12 jembatan yang sering dilalui kendaraan angkutan bertonase berat seperti angkutan batubara,.jembatan-jembatan tersebut antaranya jembatan Enim, Pelawaran , Kepur, Muara gula dan Jembatan Tebing Bantaian. Aturan yang ada, untuk kapasitas Dumptruk hanya diperbolehkan berat muatan hanya diperbolehkan 5 ton, kenyataannya mengangkut batubara hingga 10 ton. Begitu juga tronton diizinkan berkapasitas 15 ton,tetapi ada sampai 36 ton. Dishub Kabupaten Muara Enim telah membentuk Tim untuk menertbkan masalah angkutan batubara, bila melanggar akan ditindak sesuai aturan.

Sriwijaya post tanggal 25 april 2011, memberitakan, kondisi jembatan Payang,yang menghubungkan antara kota Lahat dengan beberapa desa di Kecamatan Pulau Pinang dan Kecamatan lainnya di Kabupaten Lahat, kian menghawatirkan. Fisik jembatan kini mudah bergoyang bila dilalui konvoi kendaran besar, umumnya angkutan batubara. Warga menyebutkan, ketidakstabilan jembatan melintas Sungai Lematang tersebut mulai terasa sejak beroperasinya pertambangan batubara dan pertambangan Golongan C yang bertonase diatas 10 ton.

Upaya penertiban angkutan batubara yang melanggar aturan juga telah dilakukan Tilang seperti diberitakan Sumatera Express tanggal 13 April 2011, dimana puluhan truk pengangkut batubara yang melintas di jalan Lintas Timur, ruas Palembang- Indralaya, didepan terminal Karya Jaya Palembang oleh Tim Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Provinsi Sumatera Selatan karena melintas pada jam sibuk pukul 12.00- 15.00. Mereka hanya boleh lewat pukul 15.00 WIB hingga 7.00 pagi. Para sopir juga tidak membawa surat jalan yang dikeluarkan oleh Gubernur Sumatera Selatan.Operational truk yang mendapatkan izin operasional resm untuk seluruh Sumsel 1340 truk,menurut Bapak Masripin Thoyib.

Dishub larang truk batubara, melalui jalan tengah kota Palembang dalam rangka meminimalisir kerusakan jalan ditengah akibat angkutan batubara mulai tanggal 12 April 2011. Dinas Perhubungan Kota Palembang siaga, mulai dari Terminal Karang Jaya hingga simpang empat Keramasan, berita Sumex, 13 April 2011. Menurut Bapak Masripin Thoyib, Kepala Dinas Perhubungan,berdasarkan UU no:22/2009, bahwasanya jalan tengah kota tidak boleh dilalui angkutan batubara. Diberitakan Sumex tanggal 30 April 2011, sesuai kesepakatan Dishub Provinsi ( Pemprov) dan Pemerintah Kota, truk batubara dizinkan melintas hanya malam hari, jadi dilarang siang hari mulai jam 06.00- 18.00 WIB.

Sumatera Expres tanggal 3 Mei 2011 dengan judul ‘Dishub stop 35 unit truk batubara’, yang melintas sampai dengan jam 12.30, sebelum pukul 18.00, terjadi pelanggaran hasil kesepakatan angkutan batubara tidak masuk kota jam 06.00- 18.00. Kabid Wasdalops, Dishub Kota, Bapak Pathi Ridhuan mengatakan, para pengendara truk ,seprti berita Sumex 7 mei 2011, berusaha mencari celah dan kelengahan Petugas. Sejak diberlakukan dilarang melintas pagi-sore, sampai tanggal 6 Mei, sudah 200 truk yang ditahan dan diamankan sementara di Terminal Karya jaya.

Macet sepanjang 10 km, akibat truk bermuatan batubara terperosok di jalan jenderal Sudirman Parbumulih ( Sripo, 3 mei 2011), akibatnya PNS dari luar Prabumulih telat menghadiri upacara Hardiknas di lapangan Sindur, Gedung nka 20.00 sampai pukul 14.00 WiB arus lalulintas di jln Jend Sudirman Parabumulih lumpuh total.

Sumex tanggal 24 april 2011,menjadikan berita Prabumulih ‘Jadi kota debu’, karena alan Jend. Sudirman dalam tahap perbaikan,. Angka lakalantas tinggi. Data lakalantas di Prabumulih tahun 2011, Bulan Jnuari 4 kasus, luka berat  3 orang dan luka rinagn 2 orang, Kasus dibulan Februari naik menjadi 7 kali, meninggal 3 , luber 4 dan luring 6 orang. Ada kenaikan yan g signifikan di bulan Maret terjadi 11 kasus, meninngal 4, luber 4 dan luring 12 orang. Trend ada kenaikan terus kasus kecelakaan lalu lintas.

Tulisan dalam Opini, Sumex 25 April 2011, Penulis Profe. Amzulian Rifai. SH, dekan fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dengan judul Angkutan Batu bara:memelas kepada Pemerintah, menyatakan: Problem angkutan di Sumatera Selatan sudah pada titik darurat.terutama angkutan batubara yang jumlah nyatanya melebihi 4000 truk. Macam macam akibat ikutannaya. Jalan rusak parah. Korban jiwa. Kemcetan luar biasa. Seminar, imbauan, gerakan moral belum mengubah keadaan. Kita mengharap tindakan Pemerintah.

Pada tanggal 7 April 2011 Fakultas Hukum Unsri menyelenggarakan seminar dengan topic Mencari Solusi AngkutaNn Batubara, juga pada tanggal 4 Mei 2011 diadakan seminar lagi di kampus Universitas sriwijaya, Inderalaya.

Seminar di ruang rapat senat Unsri iInderalaya, Kepala Dinas perhubungan Prov sumsel, Ir. H. Sorimuda.MT, sebagai Pembicara mengatakan:kalau memang keberadaan jembatan timbang di sumsel menurut masyarakat kurang bermanfaat, maka dapat saja di bubarkan’, tentunya harus mencabut PERDA no ;5/2002 tentang ketertiban muatan.,hal ini karena jembatan timbang sering menjadi sorotan Publik, karena tidak dapat mengatasi kelebihan beban.Perda tsb bukan untuk menambah PAD dengan memberikan denda kepada pengemudi truk yang kelebihan muatan. Perda tsb  semata-mata untuk mengatur dan memberikan efek jera bagi pengemudi kelebihan muatan, Pertanyaannya, Mengapa tidak jera-jera ???

Tronton batubara masih bandel ( Sriwijaya post, 9 Mei 2011}, meskipun tim gabungan dari Dishub kominfo, Polres. Pol PP, DPRD dan Distamben sudah turun tangan melakukan razia, namun troton batubara bertonase 35 ton masih berkeliaran di jalan  Nasional Lahat- Muara Enim, padahal tim gabungan tidak setengah-setengah bertindak berdasarkan izin Gubernur, lalu, siapa lagi yang  akan diPATUHI oleh para pengangkut Batubara??. Sangat disayangkan, razia yang dilakukan terkesan tidak efektif dan diremehkan. Warga desa kebur, Kecamatan Merapi barat malah mempertanyakan keberadaan Pos Pemeriksaan terpadu PPT) yang dikelola Dishubkominfo Provinsi Sumsel, seharusnya PPT melakukan pengawsan dan peninbamng muatan truk, jika muatannya melebihi kapasitas sesuai ketentuan harus dilarang melanjutkan perjalanan dan dikembalikan ketempat semula.

APA YANG DILAKUKAN PEMDA ?

Mengatasi masalah angktaan batubara yaitu denga menbangun Rel  khusus Kereta Api batubara. Badan Lingkungan hidup ( BLH ) Provinsi Sumsel membuka kesempatan masyarakat berbagai fihak untuk memberikan tanggapan atas rencana jalur rel KA khusus ke Srengsem (Lampung) dan tanjung Carat ( Banyu asin ), Sumex, 6 Mei 2011. Study Amdal syarat perizinan, wajib dilakukan karena tahap prakonstruksi, konstruksi, operasional dan pasca operational jalur rel kereta api khusus batubara, kemungkinan menimbulkan dampak seperti emisi, gangguan lalu lintas, kebisisngan, getaran, gangguan pandangan, ekologios serta pembebasan lahan yang berpotensi dampak Sosial.