LOKASI RAWAN KECELAKAAN DAN RAWAN BANJIR DI JALAN  NASIONAL PROVINSI KEPULAUAN BANGKA-BELITUNG

Oleh: Syarkowi, Ir. M.Sc, Bidang Perencanaan

Dalam rangka implementasi salah satu Tupoksi Bidang Perencanaan BBPJN III yaitu Aspek Keselamatan jalan dan Lingkungan, maka pada tanggal 27  April 2011, dilakukan Inspeksi lokasi lokasi rawan kecelakaan di ruas jalan Batas kota Pangkal Pinang- Sungai Liat ( N.009).

 

Survey lokasi rawan kecelakaan tersebut berdasarkan tanda peringatan rawan kecelakaan yang ada di sepanjang jalan tersebut dimana Bidang Perencanaan bersama Asisten Teknik P2JN Provinsi Kep. Bangka-Belitung, Yusridiansyah, ST., .Lokasi-lokasi rawan kecelakaan di Km 7 -8, ada tikungan yang kurang jarak pandang dan di Km 17-18, dipersimpangan (simpang 4 ) ke Pantai Anyer.

 

Lokasi lokasi yang pernah dilakukan investigasi oleh Tim  Bintek, Ir. Yani Agustin, M.Sc, Ir. Nurmala Simanjuntak, M. Eng Sc dan staf lainnya yang dibantu INDII- USAID, Mr. Philip Jordan, Ir. Victor dan staf lainnya  bersama Penulis yaitu untuk ruas Pangkal Pinang- Namang , tahun 2010 dilokasi Rawan Kecelakaan 1 ,simpang-T pada ruas jalan nasional Pangkal Pinang – Namang dekat Km 5.0. Jalan mempunyai 4 lajur lalu lintas, tidak dibagi dan mempunyai alinyemen melengkung. Tikungan ada banyak dan superelevasi besar mendorong kecepatan lebih tinggi dari pada batas kecepatan 40 km/jam. Jalan akses pada simpang-T mengarah ke barat – adalah jalan dua lajur dua arah, sudut miring sekitar 70° ke jalan raya. Jalan akses tampaknya membawa volume lalu lintas lokal stabil dengan campuran pengguna jalan – truk, bus, mobil, motor dan pejalan kaki.

Rawan Kecelakaan 2 kira-kira 0.5 km dari Rawan Kecalakaan pertama. Simpang-T mengarah ke timur dari jalan. Jalan di sini memiliki penampang yang sama dengan persimpangan Rawan Kecelakaan pertama (yaitu 4 lajur dan tidak ada median), serupanya campuran lalu lintas dan pengembangan. Kecepatan lalu lintas tampak lebih tinggi dari batas  kecepatan 40 km/jam.

Hasil penyelidikan terhadap lokasi rawan kecelakaan tgl 1-2 Juni 2010 di persimpangan (tiga) akses Bandara Depati Amir, Bangka dengan jalan nasional, ruas Kota Pangkal Pinang ke Koba/Toboali. Lokasi rawan kecelakaan tersebut persis di persimpangan tiga kaki (bentuk T) pada jalan nasional tersebut. Persimpangan ini terletak beberapa meter dari gerbang batas kota. Pada persimpangan tersebut terdapat pulau lalu lintas berbentuk segitiga dengan ada monumen nama bandara Depati Amir.

Ruas jalan Pkl Pinang-Namang merupakan jalan Nasional penting pada pulau Bangka, dengan kecepatan lalu lintas antara 40 – 70 km/jam pada badan jalan tanpa median ini. Lebar jalan adalah 6.2 meter. Lokasi  rawan kecelakaan pada persimpangan dekat Km 10.5 Pangkal Pinang di desa Air Mesu.

Ada campuran pengguna jalan pada jalan ini seperti truk, bus, mobil, sepeda motor dan pejalan kaki. Jalan mempunyai dua lajur diaspal tetapi bahu jalan sempit dan tidak diaspal. Ada kekurangan delineasi dan rambu-rambu lalu lintas yang benar pada persimpangan ini.

Untuk lokasi di Pulau Belitung yang pernah di survey lokasi rawan kecelakaan yaitu Ruas Tanjung Pandan- Tanjung Ru. Dari hasil pendataan seluruh lokasi Rawan kecelakaan tersebut akan dikaji lokasi mana yang masuk katagori Black spot setelah ada data dari Polisi/Lantas .

LOKASI RAWAN BANJIR AKIBAT LINGKUNGAN TIDAK TERKENDALI


Di beberapa tempat di ruas jalan Nasional sering terjadi banjir karena Lingkungan jalan terganggu seperti halnya ruas Pangkal Pinang- Sungai Liat yang di jelaskan Oleh PPK. Syazili, ST, MT dan Kepala satuan Kerja Wilayah I, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, Ir. Maxmillian Abubakar. Hal tersebut diakibatkan dampak dari penggalian pasir timah yang tanpa kontrol bekas galian pasir dan drainase. Saluran dan gorong-gorong atau box culvert penuh dengan endapan pasir sehingga permukaan jalan banjir ataupun permukaan air tinggi sehingga memperlemah konstruksi badan jalan. Untuk itu diperlukan penambahan box culvert atau gorong-gorong dan koordinasi dengan para fihak yang terkait.Untuk menjaga kelestarian lingkungan maka Pemerintah daerah harus konsisten terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah ( RTRW) Provinsi, Kabupaten/Kota yang telah ditetapkan.