Rapat Diskusi dan Survei Lapangan mengenai Keselamatan Jalan (Road Safety) Antara BBPJN III, Bintek, P2JJ Prov. Sumsel, IndII (Australia), Kepolisian RI dan Dinas Perhubungan Prov. Sumsel

24 Januari 2011

Rapat diskusi imengenai Road Safety ini diadakan pada:

Hari/ Tanggal    : Senin, 24 dan 25 Januari 2011

Jam                  : 13.00 s/d 15.30

Tempat             : Ruang rapat BBPJN III

Rapat ini dihadiri,antara lain:

  1. Kabid Tata Usaha BBPJN III
  2. Staf Direktorat Bintek, Subdit Lingkungan
  3. Direktorat Lalu LintasPolda Sumsel
  4. Dinas Perhubungan Prov. Sumsel
  5. P2JJ Provinsi Sumsel
  6. Konsultan IndII (Australia) / Robert Elcers (Road Safety Engineering Specialist)
  7. Staf Perencanaan (Azwar Edi,ST, MT dan Sari Novrianti,ST, MT)

Rapat dibuka oleh KBTU BBPJN III (Ir. Sailan Ibrahim, MM) yang mewakili Ka Balai yang sedang tidak berada

di Palembang, mengikuti acara serah terima jabatan dari Kepala Balai yang lama).

Diskusi dimulai dengan penjelasan dari Staf Subdit  Teknik Lingkungan dan Keselamatan Kerja, Direktorat  Bintek (Arief).

menjelaskan bahwa :

Maksud dari pekerjaan ini adalah keinginan untuk membuat Anatomi dari lokasi-lokasi rawan kecelakaan atau disebut dengan istilah Black Spot.

  • Sementara yang telah didata adalah antara Palembang sampai ke batas Jambi. Titik – titik rawan kecelakaan ini diperoleh dari Polres-Polres disepanjang jalan yang disurvey.
  • Tim telah membuat catatan letak titik-titik Black Spot, diharapkan dari Kepolisian dan Dinas Perhubungan dapat memberikan masukan apakah lokasi-lokasi yang tercatat tersebut masih tetap di sana atau mungkin telah bergeser atau ada tambahan.

Data Black Spot yang telah terkumpul ini adalah antara Palembang s.d Jambi. Data dikumpulkan  oleh Subdit Teknik Lingkungan

dan Keselamatan Jalan, Direktorat  Bintek dibantu oleh Universitas Indonesia (UI). Sampai dengan saat ini, di Indonesia belum ada definisi

mengenai Black Spot ini. Definisi berapa kalikah suatu tempat selalu  terjadi  kecelakaan baru bisa disebut Black Spot juga masih belum jelas.

Untuk itu diminta masukan dari peserta rapat lokasi Black Spot sesuai data yang telah dihimpun apakah  sinkron antara data Polda/Lantas dengan

data dari Bintek, penyebab ketidaksamaan diantaranya dapat disebabkan oleh titik referensi yang tidak sama.

Tanggapan dari pihak Polda dan Dinas perhubungan cukup positif, mereka sangat mendukung program ini. Kasubdit dari Polda Sumsel (Eko

Waluyo menyampaikan bahwa:

  • Melihat daftar daerah rawan kecelakaan yang telah disampaikan, dan data yang ada pada Polda Sumsel untuk tahun 2010,daftar tersebut masih valid.
  • Untuk survey besok, Polda Sumsel berharap dapat melibatkan Polres-Polres pada wilayah yang disurvey.
  • Dibandingkan antara  tahun 2008 dan 2010, tahun 2008 saat antara Bakauheni (Lampung) ke Palembang masih dalam kondisi baik, dimana jalur Lintas Timur antara 2 kota ini masih dapat ditempuh antara 9-10 jam. Dibandingkan tahun 2010, ternyata lebih banyak terjadi kecelakaan dimana jalan sudah lebih buruk, bergelombang dan berlobang. Jadi ternyata jalan buruk tersebut dapat mengurangi kecelakaan.
  • Perlu perhatian pada segmen jalan antara Sp. Keramasan ke Jembatan Musi 2, bagian ini sangat macet, karena jalan sempit, disini perlu 4 lajur, karena setelah Jembatan Musi 2 jalan sudah 4 lajur. Bila dulu sebelum Jembatan Ampera terbakar, truk-truk 2 As masih bisa menggunakan  Jembatan Ampera, tapi sekarang seluruh truk tersebut harus lewat Jembatan Musi 2.

Kasatker P2JJ (Ir. Marsudi, MT) menyampaikan:

  • 4 lajur Palembang s.d Sp.Inderalaya sudah ada desainnya, tinggal kapan pelaksanaan saja, ini tergantung kesedian dana dan lahan.
  • Pada ruas Jaka Baring – Jejawi Kayu Agung, sudah dimulai. Hanya ruas jalan ini masih Non-Status, dimana belum jelas pendanaannya dari mana APBN atau APBD. Saatini dana APBN telah dimulai penimbunan dan pembangunan jembatan.

Dari Dinas Perhubungan (Nofri Dalimunthe) memberikan masukan:

  • Untuk setiap kejadian kecelakaan perlu diberi kesimpulan apa penyebab kecelakaan, agar diketahui apa yang salah dalam kejadian tersebut. Mungkin jalan sudah didesain secara benar, rambu sudah ada, tetapi ternyata penyebabnya adalah manusianya.

Tanggapan dari IndII (Ir. Yani Agustin, MSc.):

  • Memang dalam setiap kecelakaan akan dicatat apa penyebab kecelakaan, bagaimana kejadiannya, jam berapa saat kejadian, siang atau malam, apa saja yang terlibat dalam kecelakaan
  • Perlu kerja sama dengan antara Bina Marga, Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Untuk itu diminta masukan bagaimana dengan pemasangan rambu pada jalan Nasional?

Tanggapan dari Dinas Perhubungan (Nofri Dalimunthe):

  • Untuk perambuan jalan Nasional, didanai dengan APBN. Tetapi dana ini tidak cukup untuk pemasangan rambu secara keseluruhan. Rambu yang telah dipasang sering hilang dicuri.
  • Untuk lokasi-lokasi yang rawan kecelakaan dan perlu kewaspadaan, pemasangan Ruble Strip ternyata sangat efektif
  • Kecelakaan sering terjadi pada lokasi yang bahu jalannya sangat rendah atau tanpa bahu. Dari pada membangun jalan baru yang begitu mahal lebih baik membuat bahu jalan yang sama tinggi dengan perkerasannya.

Subdit Teknik Lingkungan dan Keselamatan Jalan, Dit bintek:

  • Untuk survey tanggal 25 Januari 2011, akan meninjau KM. 14 dan KM. 36. Tanggal 26 Januari 2011, black spot KM. 46.
  • Data yang diperlukan memang agak detail, misalnya apakah kecelakan tersebut  dari arah berlawanan (head to head), dari arah yang sama,kejadian pada siang hari atau malam hari. Sehingga kita tidak keliru dalam penanganannya.

Tanggapan dari Ditlantas Polda Sumsel (Aspan Sanjaya)

  • Sesungguhnya kita sudah punya wadah, dimana kalau ada kecelakaan yang memakan korban kematian lebih dari 3 orang, kita akan turun bersama untuk mengidentifikasikan penyebabnya.
Pelaksanaan Survei dilkukan bersama – sama pada tanggal 25 Januari 2011.