LOKASI RAWAN KECELAKAAN DAN POTENSI RAWAN KECELAKAAN DI JALAN  NASIONAL LINTAS TIMUR BATAS KOTA PALEMBANG – BATAS PROVINSI JAMBI.

Oleh: Syarkowi, Ir. M.Sc, Kepala Bidang Perencanaan.

Dalam rangka implementasi salah satu Tupoksi Bidang Perencanaan BBPJN III yaitu Aspek Keselamatan jalan dan  Aspek Lingkungan bidang Jalan, maka pada hari minggu,tanggal 7 Agustus  2011, dilakukan Inspeksi lokasi lokasi rawan kecelakaan dan lokasi potensi rawan kecelakaan, data data kasus kecelakaan serta jumlah korban kecelakaan di ruas-ruas jalan Nasional  di Lintas Timur arah Provinsi Jambi ( Batas Kota Palembang/km 12 – Pangkalan Balai- Betung – Sei Lilin – Peninggalan- Bayung Lencir – Batas Provinsi Jambi).

Di Ruas  jalan Nasional Lintas Timur,lokasi rawan kecelakaan ruas Batas Kota Palembang- Betung, seperti yang ditulis Koran Sriwijaya Post hari kamis tanggal 4 Agustus 2011, sedikitnya terdapat lima titik rawan kecelakaan yaitu lokasi rawan kecelakaan, mulai dari km 12 (batas kota Palembang ), yaitu di km 12-18,  desa Air batu, km 18- 20, desa Musi Landas dan Sembawa; Km 29-32, desa Pulau Harapan; km 44-46, Pangkalan Balai, ibukota Kabupaten Banyuasin; serta Km 65, desa Durian Daun dan Kota Betung.

Dari catatan Unit Laka Lantas, kasus lakalantas di Jalintim wilayah Kabupaten Banyuasin tergolong tinggi. Data tahun 2010 terdapat 113 kasus lakalantas, korban meninggal dunia 53 orang, luka berat (luber) 84 orang, luka ringan ( luring) sebanyak 98 orang dan kerugian material 764 juta rupiah lebih. Menurut AKP Andi, faktor penyebab karena jumlah kendaraan yang terus bertambah namun tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana yang memadai, kondisi jalan yang masih banyak berlubang, jalan yang sempit,dan minimnya rambu lalu lintas,tidak ada marka jalan juga sebagian ruas jalan terdapat tanjakan dan jalan menikung tajam, sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan.

 

Ruas Jalan Lintas Timur, masih ada lebar jalan yang kurang dari Standar Minimal Jalan Nasional, Bahu+ Perkerasan+ Bahu ( 2 m + 7 m + 2 m ), saat ini dalam masa konstruksi pelebaran jalan.Di dalam kontrak/ Spesifikasi edisi Novembar 2010 telah tercantum item pembayaran tersendiri manajemen pengaturan lalu lintas,. Zona kerja adalah lokasi yang ber potensi kecelakaan, apalagi di malam hari. Dilapangan cukup baik rambu-rambu lalu lintas sementara di zona kerja, namun perlu di jaga kondisi dan keberadaannya.

 

Di ruas Betung – Sei Lilin- Peninggalan- Batas Jambi masih banyak daerah potensi kecelakaan karena masih sangat kurang tanda atau rambu lalu lintas terutama belum adanya rambu bentuk chevron di tikungan-tikungan. Juga masih adanya ruang bebas yang cukup di jembatan – jembatan bentang pendek yang belum dilakukan pelebaran jembatan ataupun duplikasi di segmen jalan yang telah di lebarkan dari 5,5 – 6 meter jalan existing menjadi jalan standar dengan lebar 7 m atau lebar standar jalan kelas sedang (2 + 7 + 2) m. Hal lain lokasi ptesi rawan kecelakaan akibat gangguan fungsi jalan dimana banyak kegiatan-kegiatan masyarakat yang menggunakan ruang manfaat jalan ( Rumaja ) sehingga menimbulkan roadside hazard.

 

Jalan Lintas Timur yang merupakan salah satu koridor ekonomi Pulau Sumatera, sangat padat lalu lintas dengan bermacam jenis kendaraan, baik lokal maupun antar Provinsi (Regional), diperlukan pengaturan yang intensif dan kesadaran serta disiplin para Pengguna Jalan serta Izin  Pemanfaatan dan Penggunaan bagian-bagian jalan.

 

Ketertiban atau kepatuhan atas peraturan yang berlaku seperti batasan Muatan/beban kendaraan, Muatan Sumbu Terberat ( MST) sangat diperlukan. Kelas jalan Lintas Timur secara umum masih dalam kelas JALAN SEDANG berdasarkan Undang-Undang No:38/2004 dan Peraturan Pemerintah No:34/2006 tentang Jalan, saat ini telah diprogramkan peningkatan kapasitas. Jalan Lintas Timur rawan macet, dengan kendaraan yang agak kurang terkendali Muatan Sumbu Terberat (MST), memperhatikan hal tersebut, Jalan TOL sudah sangat perlu intensif di programkan. Study Master Plan Arterial Road Sumatra (MARS)- KOICA, Korea maupun JICA- Jepang, telah membuat Rekomendasi tentang Jaringan jalan TOL tersebut. Untuk jaringan jalan di Sumatera Bagian Selatan ( SumBagSel), lebih dikenal dengan BELAJASUMBA, Integrasi Program para Gubernur Bengkulu, Lampung, Jambi, Sumatera Selatan dan Bangka-Belitung, pernah di presentasikan Penulis dalam rangka shortcourse dalam rangka Program MARS di Korea tahun 2009.

Program Pemerintah Daerah telah merencanakan Megaproyek infrastruktur jalan Tol sepanjang 137 km dari kota Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) hingga ke kota Betung, Kabupaten Banyuasin seperti yang ditulis Koran Sumatera Ekspres pada hari Jumat tanggal 5 Agustus 2011, terdiri dari 3 (tiga) koridor yaitu:

Koridor I: Jakabaring (Palembang) – Jejawi- Kayu Agung,adalah koridor yang paling siap untuk pelaksanaan pembangunannya yang diperkirakan 1,5 tahun selesai.

Koridor II: Alang-Alang Lebar ( Palembang)- Betung, Kabupaten Banyuasin, untuk Feasibility study nya sudah dilakukan.;

Koridor III: Jaka Baring- Pulau Borang –Alang-Alang Lebar, adalah jalan lingkar Timur Palembang dan mengarah ke Tanjung Api-Api (TAA), lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK- Perindustrian).

About these ads